Artikel

DOA SYAFAAT

    Dibaca 2896 kali

Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

(1 Timoteus 2 : 1–2)

 

 

Gereja memiliki tiga tugas yang harus dilaksanakannya, yakni menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. Kita berdoa bukan hanya untuk orang-orang yang kita kasihi semata-mata, tetapi untuk semua orang. Secara khusus Paulus menyebut para raja-raja dan pembesar agar kita dapat hidup dengan tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Orang percaya adalah orang saleh dan orang terhormat di dunia ini.

 

Dalam hidup ini, ada banyak hal yang dapat diceritakan. Di kota Bristol Inggris, ada seorang kaya yang memandang ke sebuah menara Gereja, tatkala dia mulai ragu tentang keberadaan Allah. Menara Gereja yang dimaksud ialah menara Gereja yang ada di kompleks panti asuhan yang dikelola oleh George Muller. Muller adalah seorang tokoh yang terkenal di dalam hal doa. Ia mengelola satu panti asuhan yang mengasuh ribuan orang, tanpa didukung oleh satu yayasan yang menopang keuangan panti asuhan tersebut. Ia hanya mengandalkan Allah di dalam segala kebutuhan sehari-hari mereka.

 

Pada satu malam, Muller melihat para staf terlihat gelisah dan berbisik-bisik satu sama lain. Lalu ia menanyakan apa yang mereka perbincangkan. Lalu mereka menceritakan kepadanya bahwa roti tidak ada lagi untuk dimakan besok pagi, sementara mulut yang akan disuapi makanan ada ribuan. Lalu pada malam hari itu, Muller mengumpulkan seluruh staf. Ia mengatakan kepada mereka perkataan ini: “Pada malam ini, kita akan mengadakan upacara penguburan”. Ia membagikan sebuah batu kecil kepada tiap orang yang ikut di dalam upacara itu. mereka mengajukan pertanyaan kepada Muller: “Siapa yang meninggal?” Muller mengatakan yang akan dikubur itu ialah: “kekuatiran” kita sekalian.

 

Ia meminta agar batu kecil yang ada di tangan tiap-tiap orang, digambarkan sebagai kekuatiran. Lalu mereka melemparkan tiap batu itu ke dalam liang kubur. Lalu kuburan itu pun ditutup. Mereka membuat satu prasasti di atas kuburan tersebut dengan tulisan: di sini telah dikuburkan segala kekuatiran kami. Kuburan itu tetap di dalam komplek panti asuhan itu sebagai peringatan. Mereka disuruh untuk tidur. Pada pagi harinya, tatkala mereka bangun, mereka melihat ada beberapa truk parkir di depan pekarangan mereka. Seorang kaya di kota Bristol menuliskan surat kepada Muller. Ia menulis: “Tadi malam saya tidak bisa tidur. Saya mengingat panti ini. Lalu saya berkata: apa yang akan mereka makan pagi hari ini? Kemudian saya mengirimkan tepung ini untuk diolah menjadi roti.” Tepung itu cukup untuk mereka dalam jangka satu bulan.

 

Dituturkan pula, Muller mendoakan dua orang sahabatnya supaya menjadi Kristen. Ia berdoa terus tiap hari bagi kedua orang itu dalam syafaatnya. Ia berdoa untuk orang tersebut selama tujuh puluh tahun lamanya. Satu orang bertobat dan menjadi Kristen, setahun sebelum Muller meninggal dunia. Satu lagi bertobat setahun setelah Muller meninggal dunia. Ada banyak yang dapat kita lakukan melalui doa syafaat kita.

 

 

(Charles Hotman Siahaan)