Artikel

ROH KUDUS

    Dibaca 667 kali Kristus Roh Kudus karya

Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

(Kisah Para Rasul 2 : 33)

 

 

Nats ini adalah bagian dari khotbah Petrus di hari Pentakosta, hari turun-Nya Roh Kudus atas para rasul. Dalam khotbahnya itu, Petrus menegaskan bahwa turun-Nya Roh Kudus adalah disebabkan ditinggikan-Nya Yesus oleh tangan kanan Allah. Produknya Yesus pun menerima Roh Kudus yang dijanjikan, lalu dicurahkan kepada orang percaya. Jika di Perjanjian Lama Roh Kudus hanya turun atas orang tertentu saja, sekarang Roh Kudus diberikan kepada setiap orang percaya.

 

Yesus harus ditinggikan lebih dahulu di surga, barulah Roh Kudus itu diberikan kepada Yesus. Itu berarti karya Yesus di kayu salib harus diterima Allah lebih dahulu sebagai pendamaian atas keberdosaan umat manusia di hadapan Allah, barulah hidup-Nya dibagikan Allah kepada orang percaya. Dengan diterimanya karya Yesus di kayu salib, sekarang telah terjadi pendamaian antara manusia dengan Allah. Oleh karena itu hidup Allah pun dicurahkan dengan limpah-Nya bagi setiap insan yang percaya.

 

Roh Kudus adalah wujud hidup Allah. Kita mendapatkan-Nya oleh karena karya Yesus Kristus. Tidak ada jalan lain bagi insan manapun yang mendapatkan Roh Kudus di luar karya Kristus di kayu salib itu. Itu bukan hasil usaha kita, bukan juga hasil pekerjaan kita di hadapan Allah. Itu adalah kasih karunia.

 

Roh Kudus adalah sesuatu yang nyata. Para murid melihat sesuatu seperti lidah api turun ke atas mereka, lalu mereka berbicara berbagai bahasa dan didengar banyak orang. Itu satu fakta. Hal yang sama pun terjadi di dalam hidup kita. Jika Roh Kudus turun ke atas hidup kita, maka kekristenan menjadi sesuatu yang nyata di dalam hidup ini. Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5 : 17).

 

Roh Kudus membuat wujud Yesus menjadi nyata di dalam hidup kita. Jika hal itu sudah sempurna, maka Ia pun akan beristirahat dari pekerjaan-Nya dan pekerjaan-Nya itu sempurna di hadapan Allah. Itulah akhir hidup kita di dunia ini.

 

(Charles Hotman Siahaan)