Artikel

SIA-SIA

    Dibaca 1186 kali Sia-sia Berkat Allah

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

(Mazmur 127 : 2)

 

 

Ada orang yang bersusah payah mengumpulkan harta dengan bekerja pagi-pagi benar. Lalu sampai larut malam masih bekerja juga. Orang itu merasa ia harus meraup harta sebanyak-banyaknya, sewaktu ia masih hidup. Pemazmur mengingatkan kita bahwa di luar berkat dari Allah, semuanya adalah sia-sia. Jam kerja yang panjang tidak akan membuat kita berbahagia demikian juga dengan kerja keras.

 

Pemazmur mengatakan: ”Sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” Jika seseorang menerima berkat pada waktu tidur hal itu menandakan bahwa buah dari pekerjaannya tergantung pada kasih karunia Allah daripada pekerjaannya sendiri. Tidak ada tempat untuk kegelisahan hati, kita harus tidur dengan damai sejahtera bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita seturut kehendak-Nya.

 

Kesaksian pribadi akan dituturkan di sini. Saya hidup bergantung kepada kemurahan belaka. Tidak ada income yang pasti kecuali belas kasihan Allah semata-mata. Namun kami dapat menjalani kehidupan ini tanpa harus meminta-minta dari teman-teman sepersekutuan. Kami ibarat Nabi Elia di sungai Kerit, diantarkan sepotong daging tiap hari oleh seekor burung gagak.

 

Tentu saja orang percaya tidak boleh bermalas-malasan, sebab jika ia malas maka ia akan mendapatkan konsekuensinya. Namun, sudah kita katakan di atas bahwa tidak ada tempat untuk kegelisahan hidup. Sebab Allah ada bersama dengan kita. Iman membawa rasa damai di dalam hati, lalu melenyapkan keraguan-raguan. Melalui iman, Allah membuat orang percaya kepada-Nya bebas dari kegelisahan dan keragu-raguan.


(Charles Hotman Siahaan)