Artikel

PENGAGUNGAN

    Dibaca 1210 kali Allah Pemazmur Pengagungan agung pujian ucapan syukur

(Mazmur 145 : 1–8)

 

 

Mazmur ini adalah mazmur Daud, raja Israel. Ia adalah seorang raja yang berkenan di hati Allah. Daud menjadi tolok ukur untuk raja-raja yang memerintah di Israel. Jika seorang raja disebut sebagai raja yang benar, maka ia disebut hidup seperti nenek moyangnya Daud. Jika ia tidak benar, maka ia disebut tidak hidup seperti nenek moyangnya Daud. Kita juga satu pribadi yang berkenan di hati Allah, oleh karena Tuhan Yesus Kristus.

 

Sangat wajar pula jika hidup kita juga menjadi tolok ukur bagi orang di sekitar kita, oleh karena iman kita kepada Kristus Yesus Tuhan kita. Wajar pula jika kita meniru Daud dalam pengagungan Allah, sebagaimana diungkapkannya di dalam nats ini. Pujian pengagungan Allah yang dilaksanakan Daud, menjadi berkat bagi orang lain yang membacanya, demikianlah juga kiranya pujian kita kepada Allah menjadi berkat bagi orang lain.

 

Daud mengatakan di dalam ayat 2 bahwa tiap hari ia memuji Tuhan. Tiap hari ada kesusahannya sendiri-sendiri. Namun pujian kepada Tuhan tidak luput dari mulut kita, sebab layaklah Tuhan dipuji dalam setiap keadaan bagaimana pun. Pujian tidak boleh berhenti hanya karena persoalan kita hadapi dalam hidup ini. Sekali pun kita bergumul dalam hidup, namun kasih setia Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Itulah sebabnya pujian kepada Tuhan untuk seterusnya dan selamanya dinaikkan dari lubuk hati yang paling dalam.

 

Dalam ayat 3 Daud mengungkapkan bahwa Tuhan itu adalah Allah yang besar. Seorang pun tidak dapat menduga kebesaran-Nya. Tidak cukup hanya satu angkatan yang menuturkan kebesaran Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam ayat 4 dikatakan angkatan demi angkatan akan memegahkan nama Allah. Sebuah pertanyaan perlu diajukan kepada kita: apakah generasi saudara sedang memegahkan pekerjaan Allah atau memegahkan pekerjaan manusia belaka?

 

Dalam ayat 5 pemazmur berbicara tentang semarak perbuatan Allah yang akan dinyanyikan Daud. Perbuatan itu akan diceriterakan Daud pada generasinya, juga generasi yang akan datang. Ceritera apakah yang sedang saudara dan saya ceriterakan kepada angkatan ini dan juga generasi yang akan datang?

 

Pada ayat 7 Daud berbicara tentang peringatan. Itu adalah satu peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup pemazmur. Bukan hanya dia yang memasyurkannya, tetapi orang banyak pun turut serta. Bagi kita sekarang ini peristiwa itu ialah: kala kita mati bersama Kristus di kayu salib. Semuanya itu dikerjakan Tuhan karena Ia adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya (ayat 8).

 

 

(Charles Hotman Siahaan)