Artikel

WAKTU

    Dibaca 583 kali

Pengkhotbah 3 : 9–15

 

 

Untuk segala sesuatu ada waktunya, demikian kata Pengkhotbah. Guru hikmat ini pun mengatakan bahwa Allah juga bekerja di dalam hidup setiap insan. Allah menaruh kekekalan di dalam hati manusia. Pada umumnya, kita semua punya dimensi kekekalan. Oleh karena itu, manusia yang bekerja mencari sesuatu, seharusnya di dalam apa yang dicari terdapat dimensi kekekalan. Ada banyak yang dapat dikerjakan manusia di dunia ini, namun satu hal yang harus digarisbawahi ialah: manusia tidak mampu menyelami apa yang dikerjakan Allah.

 

Dengan kekekalan yang ditanamkan di dalam diri kita, maka kepada kita diberikan kesempatan untuk menyelami pekerjaan Allah sekalipun itu tidak dapat diukur panjangnya dan lebarnya serta betapa tingginya karya Allah tersebut. Roh Kudus yang oleh karena iman kepada Tuhan Yesus akan memberikan kepada kita kemampuan untuk menyelami apa yang dikerjakan Allah.

 

Paulus yang mencoba menyelami pekerjaan Allah, menuangkannya di dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Setelah menguraikan secara panjang lebar, Paulus berkata: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

 

Oleh karena kita tidak akan mampu secara menyeluruh memahami pekerjaan Allah, maka satu hal yang harus kita syukuri di dalam hidup ini ialah: kita diberi kesempatan untuk menikmati apa yang sudah kita kerjakan. Ada saja orang yang bekerja keras, tetapi tidak menikmati hasil pekerjaannya. Ada orang bahkan pelit untuk dirinya sendiri.

 

Hidup yang diberkati Allah ialah mereka yang dapat menikmati hasil jerih lelahnya. Kemudian ia menikmati pekerjaannya itu dalam dimensi kekekalan. Jika kekekalan tidak ditemukan di dalam diri kita, maka alangkah malangnya hidup di dunia ini. Karena semua akan berlalu, hanya yang tinggal di dalam kekekalan yang dikaruniakan Allah bagi kita, orang itu berbahagia. Sebab apalah artinya seseorang memiliki seluruh dunia padahal jiwanya binasa!

 

Karya Allah yang punya dimensi Allah, kata guru hikmat bersifat menetap. Jika kepada kita telah disematkan sesuatu yakni hidup yang kekal, maka tidak akan ada satu pun yang dapat membatalkan karya Allah itu di dalam diri kita. Bahkan diri kita sendiri pun tidak akan dapat membatalkannya. Guru hikmat mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah senantiasa ada.

 

(Charles Hotman Siahaan)