Artikel

APA YANG ENGKAU CARI?

    Dibaca 394 kali

Apa sebenarnya yang engkau cari dalam hidup ini?

Pertanyaan demikian sungguh menggugah kita untuk bertanya-tanya tentang tujuan hidup kita di dunia ini. Tetapi sayangnya, tidak banyak dari antara kita yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Sebagian besar dari kita, hidup hanya dalam gerak yang tetap, monoton dan tidak pernah menemukan suatu tujuan yang dapat menyegarkan jiwa. Maka hidup akan berlangsung terus dalam ketidaktahuan arah, berjalan seperti robot yang dikendalikan oleh mesin waktu. Hidup akan kehilangan makna jika kita hanya sekedar hidup.

 

Apa sebenarnya yang engkau cari dalam hidup ini?  Sudah semenjak berabad-abad lampau, pada saat manusia mulai memikirkan keberadaannya di dunia ini, pertanyaan tersebut selalu menjadi tantangan yang mengusik. Tetapi sesungguhnya, manusia tak pernah dapat merumuskan jawaban yang pasti tentang hal itu. Karena jawabannya ada dan tersimpan jauh di dalam hati setiap orang. Maka pertama-tama kita harus menyadari apa yang membuat kita ada di dalam kehidupan ini.

 

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi demikianlah permulaan dari kitab suci. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Lalu kita, manusia. TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Tetapi manusia, dengan segala kebebasan dan ambisinya, tidak ingin hanya menjadi tukang kebun. Maka manusia mulai mencari kebenarannya sendiri. Bahkan biarpun dia harus menjual jiwa kepada sang ular. Akhirnya, dengan segala resiko dia mulai mencari dan berbuat segala upaya menuju apa yang dianggapnya sebagai kebenaran sejati. Maka dia pun harus bertanggung-jawab atas segala perbuatannya. Kini, berkelanalah kita di atas bumi ini.

 

Apa sebenarnya yang engkau cari dalam hidup ini?

Ada yang menjawab Kebahagiaan, seperti cerita berikut ini.

Pada suatu waktu, ada seorang raja yang memiliki banyak harta dan dia mengetahui bagaimana menggunakannya. Dia memiliki tanah sejauh mata dapat memandang, dia membangun lusinan Istana, mengisinya dengan emas dan perak. Dia memiliki ratusan pelayan yang siap dipanggil kapanpun diinginkannya. Terlepas dari begitu banyak yang telah dia peroleh, kelihatannya dia tidak pernah merasa cukup. Akhirnya dia terlihat seperti orang yang menyedihkan.

 

Suatu waktu raja memanggil seorang pelayannya dan memberikan perintah ini Saya mau engkau menjelajahi daratan ini dari ujung ke ujung, cari orang yang paling bahagia di bumi ini. Sekali kamu menemukan orang itu, saya ingin kamu untuk mengambil apa yang ia miliki dan bawa pada saya. Bunuh orang itu bila perlu. Saya harus memilikinya agar dengan sendirinya saya menjadi manusia yang berbahagia. Tetapi jika kamu gagal maka kamu akan dipenggal.

 

Setelah beberapa bulan dia mencari, pelayan itu kembali. Melihat pelayannya itu kembali dengan tangan kosong maka marahlah raja itu. Dia memberikan sedikit waktu pada pelayan itu untuk mejelaskan mengapa dia tidak mematuhi perintahnya.

 

Dengan air mata dan suara yang gemetar dia menghadap raja dan berkata, saya telah melakukan apa yang raja perintahkan, dari ujung ke ujung saya sudah mencari orang yang paling bahagia di dunia. Akhirnya saya menemukannya.

 

Rajapun berdiri dan berteriak pada pelayannya, Jadi kenapa kamu tidak membawa apa yang dimilikinya?

 

Tuan, orang yang paling berbahgia di dunia ini tidak memiliki apa-apa, kata pelayan tersebut.

 

Saudaraku yang dikasihi Tuhan mungkin kita seperti cerita tersebut, kita berusaha mencari seseorang atau sesuatu yang telah hilang dalam kehidupan kita. Kita berusaha mencari sesuatu yang memberi kita arti, tujuan atau rasa sehingga dapat dimiliki, memberi kebahagiaan atau cinta.

 

Apa yang tidak kita sadari adalah bahwa seseorang juga sedang mencari kita dan Dia sangat dekat dari apa yang dapat kita bayangkan, yaitu Tuhan Yesus. Pribadi Tuhan Yesus begitu dekat dengan kita setiap saat. Namun kita masih saja berusaha mencari kebahagiaan lain.

 

Apa yang kita cari?  Kita tidak pernah menemukan jawaban itu apabila kita adalah pribadi yang enggan meninggalkan segala kesenangan hidup kita. Kita gagal menemukan makna kebahagiaan itu karena keterikatan kita dengan dunia, lingkungan dan kesenangan kita.

 

Apa sebenarnya yang engkau cari dalam hidup ini?  Cobalah merenungkan pertanyaan itu dalam keheningan hatimu. Cobalah menyelami makna keberadaanmu di dalam dunia ini. Kesementaraan hidup dan ketidak-abadian maka engkau akan temukan suatu ketenangan alami. Suatu makna bahwa yang kekal tidak akan nampak sebelum kita meninggalkan ketidak-kekalan kehidupan ini. Bahwa kelak, bukan kematian yang akan datang tetapi suatu kelahiran kembali di dunia yang baru. Dunia yang abadi. Karena itu, carilah kebenaran yang memerdekakan dan bukan kemerdekaan yang mengikat. Dan kita tahu itu saat Yesus berkata Damai sejahtera bagi kamu!  Itulah yang harus kita temukan di dalam hidup ini.

 

 

Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukumNya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN  (Zefanya 2 : 3)